SIFAT ATAU CIRI-CIRI BAHASA
Sifat atau ciri bahasa adalah tanda khas yang hanya ada pada bahasa, sehingga membedakannya dengan sesuatu hal lain. Sifat/ciri bahasa pada dasarnya berangkat dari definisi tentang bahasa. Beberapa hal yang menjadi dasar bahasa terdapat pada definisi bahasa, namun sebagian yang lain adalah pengembangan dari definisi yang ada. Berikut adalah 13 sifat/ciri bahasa menurut Chaer (2012:33):
1. Bahasa Adalah sebuah Sistem
Sistem adalah sesuatu yang tersusun, teratur, dan berpola. Kata sistem dapat diartikan sebagai suatu susunan teratur yang berpola sehingga membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Artinya, sistem bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, sistem adalah keseluruhan dari sistem bawahan yang membentuknya.
Sebagai sebuah sistem, bahasa juga bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis artinya bahasa tersusun secara terartur dan berpola. Adapun sistemis artinya bahasa tersusun dari beberapa sub-sistem. Sub-sistem bahasa di antaranya sintaksis, morfologi, fonologi, semantik, dan leksikon. Berikut adalah penjabaran secara ringkas tentang beberapa sub-sistem bahasa tersebut.
Sintaksis adalah sub-sitem ilmu bahasa/linguistik yang mempelajari tentang susunan kalimat. Morfologi adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang bentuk kata. Fonologi adalah sub-sistem ilmu bahasa yang mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa. Semantik adalah sub-sistem ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna. Leksikon adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang kosakata.
2. Berwujud Lambang
Lambang dalam bahasa juga merupakan bagian dari sistem. Lambang, dalam bahasa Indonesia juga dikenal dengan simbol. Secara sederhana lambang diartikan sebagai suatu tanda yang mengandung maksud tertentu. Menurut W. et al. (2017:1.5) bahasa merupakan sistem simbol, baik berupa bunyi dan/atau tulisan yang dipergunakan dan disepakati oleh suatu kelompok sosial. Ditinjau dari ilmu bahasa (linguistik), lambang dapat berbentuk, abjad, angka, dan pelafalannya (bunyi). Bunyi dikategorikan sebagai lambang, sebab bunyi adalah bagian dari tanda.
3. Berupa Bunyi
Istilah bunyi dan suara adalah dua kata yang sama (bersinonim). Namun demikian untuk membedakan dua kata tersebut dapat menyimak penjelasan berikut. Suara adalah bunyi yang dikeluarkan dari alat ucap (manusia atau hewan) dan gesekan benda. Bunyi adalah sesuatu yang terdengar oleh alat dengar. Disebut suara ketika bunyi dihasilkan, disebut bunyi ketika suara itu diterima.
Sama halnya dengan lambang, bunyi dalam bahasa juga merupakan bagian dari sistem. Secara sederhana bunyi adalah sesuatu yang diterima oleh alat pendengaran, baik dari gesekan benda, alat suara pada hewan atau manusia. Namun, bunyi yang termasuk lambang bahasa adalah bunyi-bunyi yang diucapkan oleh manusia yang berupa huruf, kata, kalimat, atau wacana. Sehingga, walaupun dihasilkan oleh alat ucap manusia, teriakan, tangisan, dan batuk bukan merupakan bunyi bahasa.
4. Bersifat Arbitrer (Manasuka)
Arbitrer, dalam bahasa Indonesia juga dapat diartikan sebagai manasuka, berubah-ubah, tidak tetap, dan sewenang-wenang. Istilah arbitrer dalam pengertian ini artinya tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (huruf, angka, dan bunyi) dengan konsep dari lambang tersebut.
Misalnya, konsep dari binatang berkaki empat yang biasa dipelihara untuk ditunggangi atau angkutan dalam lambang bahasa Indonesia ditulis sebagai kata kuda dan dibunyikan [kuda]. Sedangkan dalam bahasa lain, seperti Bima disebut dengan [jara], bahasa Jawa [jaran], dan bahasa Inggris [horse]. Walaupun hewannya sama, namun dilambangkan (tulis atau lisan) secara berbeda. Jika memang ada hubungan yang wajib, maka sudah tentu nama hewan itu ditulis dan disebut dengan kata yang sama pada semua bahasa.
5. Bermakna
Ciri lain dari bahasa adalah memiliki makna. Makna atau arti adalah pengertian yang diberikan pada suatu bentuk kebahasaan. Bentuk kebahasaan atau yang juga disebut dengan satuan kebahasaan dapat berupa morfem, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Bentuk kebahasaan tersebut pasti memiliki makna entah itu makan leksikal (morfem dan kata), makna gramatikal (frase, klausa, dan kalimat), atau makna pragmatik/konteks (wacana).
Berdasarkan hal tersebut, dapat dipastikan bahwa semua ucapan yang tidak bermakna bukanlah bahasa. Hal ini sejalan dengan fungsi bahasa sebagai bunyi, sebab tidak semua bunyi dapat disebut dengan bahasa. Pun begitu dengan fungsi bahasa sebagai lambang, semua lambang yang tidak mempunyai makna tidak dapat disebut dengan bahasa. Perlu diperhatikan pula bahwa bentuk bahasa yang belum diketahui maknanya bukan berarti tidak memiliki makna.
6. Konvensional
Konvensional artinya berdasarkan pemufakatan atau kesepakatan suatu kelompok. Bahasa, walaupun bersifat arbitrer (manasuka) namun dalam penggunaan lambang harus diikuti oleh setiap kelompok masyarakat tersebut. Misalnya, kelompok masyarakat bahasa Indonesia harus mengikuti aturan yang telah disepakati oleh masyarakat Indonesia. Begitu juga dalam kelompok masyarakat bahasa daerah maupun komunitas yang lebih kecil.
7. Unik
Ciri selanjutnya dari bahasa adalah bahasa itu bersifat unik. Unik secara singkat dapat diartikan sebagai ciri khas/ciri khusus. Bahasa bersifat unik artinya bahasa memiliki ciri khas tersendiri pada setiap sistem dan penggunaannya. Ciri khas tersebut berlaku pada semua bahasa yang ada di dunia. Tentang keunikan ini, Chaer (2012:52) menyatakan jika keunikan terjadi pada sekelompok bahasa yang berada dalam satu rumpun atau satu kelompok bahasa, lebih baik jangan disebut keunikan, melainkan ciri dari rumpun atau golongan bahasa itu. Misalnya rumpun bahasa Melayu-Polinesia seperti bahasa Kalimantan, Filipina Utara, Sulawesi, Jawa, dan Sumba. Bahasa dalam rumpun Melayu Polinesia tersebut memiliki ciri awalan (prefix), sisipan (infix), akhiran (sufix), dan kombinasinya serta reduplikasi untuk mengekspresikan berbagai nilai.
8. Universal
Jika sebelumnya telah dibahas bahwa bahasa itu memiliki ciri khas masing-masing (unik), selanjutnya akan dibahas tentang ciri lain dari bahasa yaitu sifat bahasa yang universal. Universal dapat diartikan sebagai sesuatu yang bersifat umum dan berlaku untuk seluruh dunia. Ciri bahasa yang universal dapat diartikan bahwa semua bahasa di dunia memiliki sifat tertentu yang sama dengan bahasa lainnya. Contoh ciri universal pada bahasa adalah adanya bunyi bahasa yang berupa vokal dan konsonan pada semua bahasa di dunia.
9. Produktif
Kata produktif dapat diartikan sebagai mampu menghasilkan secara terus-menerus. Sifat bahasa yang produktif dapat berarti kemampuan bahasa dalam menghasilkan istilah secara terus-menerus. Walaupun hanya terdiri dari unsur yang terbatas (a-z atau 0-9) bahasa dapat menghasilkan berbagai macam istilah baru.
Misalnya: huruf yang terdiri dari a, h, n, t, dan u dapat membentuk kata tuhan, hutan, hantu, dan tahun. Begitu pun dengan penggabungan huruf lain yang membentuk kata, kemudian kalimat, paragraf, hingga wacana.
10. Bervariasi
Sifat selanjutnya dari bahasa adalah bahasa itu bervariasi. Bervariasi dapat berarti mempunyai berbagai bentuk, jenis atau ragam. Bahasa itu bervariasi artinya bahasa memiliki berbagai bentuk. Variasi bahasa ini dibagi oleh Chaer (2012:55) dalam tiga bentuk, yaitu idiolek, dialek, dan ragam. Idiolek adalah variasi bahasa yang mencirikan perseorangan/individu.
Dialek adalah variasi bahasa yang mencirikan kelompok masyarakat pada suatu tempat atau waktu tertentu. Dialek dapat disebut pula dengan sebutan dialek regional, dialek areal, dialek geografi, atau yang umumnya dikenal dengan logat. Selanjutnya variasi bahasa yang berupa ragam. Ragam adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu. Ragam bahasa ini dapat berupa ragam bahasa formal (baku), nonformal (nonbaku), lisan, tulisan, bertelepon, ber-SMS, jurnalistik, sastra, militer, atau hukum.
11. Dinamis
Dinamis adalah kata sifat yang berarti cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Bahasa bersifat dinamis artinya bahasa bersifat mengikuti dan menyesuaikan dengan keadaan atau masyarakat penggunaannya. Oleh karena sifat bahasa yang dinamis, maka bahasa selalu berubah, tidak tetap, dan selalu aktif (tidak diam). Bahasa yang bersifat dinamis tersebut berlaku pada semua sistem bahasa. Perubahan itu dapat berbentuk kemajuan, kemunduran, perluasan, atau penyempitan, tergantung pada penggunaan bahasa.
12. Alat Interaksi Sosial
Selanjutnya, sifat lain dari bahasa merujuk pada fungsi bahasa yaitu alat interaksi sosial. Sifat bahasa sebagai alat interaksi sosial adalah penggunaan bahasa dalam komunikasi antarindividu untuk menyampaikan pikiran dan gagasan. Bahasa sebagai alat interaksi sosial merupakan fungsi utama dari bahasa, jika tidak ada bahasa, maka manusia akan kesulitan dalam berkomunikasi dan menyampaikan gagasan. Adapun alat seperti surat, pesan singkat, telepon genggam, dan sejenisnya adalah alat bantu untuk menyampaikan pikiran melalui bahasa.
13. Identitas Penuturnya
Bahasa sebagai identitas penuturnya bermakna bahwa dengan menggunakan bahasa, seseorang dapat diidentifikasi identitasnya, baik dari segi individu, kelompok sosial, hingga asal daerahnya. Contoh sederhana dari bahasa sebagai identitas penuturnya adalah variasi bahasa yang berupa ragam idiolek (ciri individu), dialek (ciri kelompok), ragam jurnalistik atau militer (ciri profesi).
14. Manusiawi
Ciri atau sifat terakhir dari bahasa adalah bahasa itu bersifat manusiawi. Bahasa bersifat manusiawi artinya bahasa itu hanya digunakan oleh manusia. Ciri ini sekaligus merangkum semua ciri dari bahasa. Bahasa itu bersifat manusiawi sebab bahasa adalah suatu sistem simbol yang bersifat arbitrer, bermakna, dan produktif. Hewan tidak dikategorikan memiliki bahasa sebab dalam berkomunikasi hewan hanya menggunakan gerak isyarat, hewan tidak memiliki sistem berupa simbol. Selanjutnya, bahasa hewan tidak bersifat produktif, artinya bahasa hewan tidak berkembang layaknya bahasa manusia. Kita tidak pernah menjumpai suara hewan, misalnya ayam, pada suatu waktu berkokok dengan nada yang berbeda.
Daftar Pustaka
Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
W., Solchan T., Yetty Mulyati, M. Syarif, Mohamad Yunus, Endang Werdiningsih, dan B. Esti Pramuki. 2017. Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. 1 ed. Tanggerang Selatan: Universitas Terbuka.
Posting Komentar untuk "SIFAT ATAU CIRI-CIRI BAHASA"