LIMA KLASIFIKASI JENIS-JENIS BERBICARA (BERDASARKAN TUJUAN, SITUASI, PENYAMPAIN JUMLAH PENDEGAR, DAN PERISTIWA KHSUSUS)


Kegiatan berbicara adalah salah satu keterampilan berbicara yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sehari manusia dapat berbicara dari 7.000 kata sampai dengan 20.000 kata. Ketika berbicara, wanita lebih banyak memproduksi kata dalam sehari. Menurut penelitian, kira-kira kata yang diproduksi oleh wanita dalam sehari berbicara adalah 20 ribu kata, sedangkan pria hanya 7.000 kata. Menurut (Mudini & Purba, 2009, p. 5) kegiatan berbicara memiliki berbagai macam jenis atau ragamnya, oleh karenanya jenis berbicara harus dikalsifikasikan ke dalam beberapa kategori, yakni klasifikasi berbicara berdasarkan tujuannya, situasi, metode penyampaian, jumlah pendengar, dan peristiwa khusus.

1. Jenis Berbicara Berdasarkan Tujuan
Berdasarkan tujuannya, jenis-jenis berbicara terdiri dari lima jenis, yakni berbicara untuk menginformasikan, berbicara untuk meyakinkan, berbicara untuk menghibur, berbicara untuk menstimulasi, dan berbicara untuk menggerakkan. Pengklasifikasian jenis berbicara ini diambil dari tujuan berbicara. Berikut adalah penjelasan lengkap dari lima jenis berbicara berdasarkan tujuannya.

a. Berbicara untuk menginformasikan
Jenis berbicara untuk menginformasikan adalah jenis berbicara yang digunakan ketika seorang pembicara ingin menginformasikan, memberitahukan, atau melaporkan suatu hal. Selian itu, jenis berbicara ini juga digunakan jika seseorang menjelaskan sesuatu proses, menguraikan, menafsirkan sesuatu, menyebarkan informasi dan lain sebagainya.

b. Berbicara untuk meyakinkan
Jenis berbicara kedua dalam klasifikasi jenis berbicara berdasarkan tujuan yaitu berbicara untuk meyakinkan. Berbicara untuk meyakinkan adalah kegiatan berbicara yang digunakan untuk menjadikan seseorang percaya akan suatu hal. Jenis berbicara yang termasuk dalam kategori ini yakni, berbicara untuk membuat orang tahu, mengerti atau menghilangkan keraguan pendengar akan suatu hal. Hal ini dapat dilakukan dengan menyertakan bukti, fakta, atau contoh yang tepat yang disodorkan dalam pembicaraan, sehingga akan membuat pendengar menjadi yakin.

c. Berbicara untuk menghibur
Berbicara untuk menghibur adalah jenis berbicara ketiga dalam pengklasifikasian bicara berdasarkan tujuan. Berbicara untuk menghibur adalah kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang untuk menyenangkan dan menyejukkan hati pendengar yang sedang kesusahan atau membutuhkan hiburan. Jenis berbicara ini memerlukan kemampuan menarik perhatian dan menyenangkan pendengar. Berbicara menghibur biasanya dilakukan oleh komedian dalam suatu panggung.

d. Berbicara untuk menstimulasi
Berbicara untuk meyakinkan adalah jenis berbicara atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk membuat pendengar mengerjakan sesuatu yang diinginkan oleh pembicara. Kategori berbicara untuk menstimulasi dapat dilihat pada kegiatan berbicara untuk membangkitkan inspirasi, berbicara untuk menimbulkan kemauan pendengar, atau berbicara agar pendengarnya melakukan sesuatu.

e. Berbicara untuk menggerakkan
Jenis berbicara terakhir dalam klasifikasi berbicara berdasarkan tujuan adalah berbicara untuk menggerakkan. Berbicara untuk menggerakkan adalah kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang untuk memobilisasi pendengar (individu atau kelompok) agar melakukan hal yang diinginkan oleh pembicara. Kegiatan berbicara untuk menggerakkan ini biasa dilakukan oleh individu kepada sekelompok orang, walaupun dapat pula dilakukan pada individu. Contoh kegiatan ini dapat dilihat pada kegiatan kampanye, orasi pada aksi demonstrasi, atau pidato para pejuang.

2. Jenis Berbicara Berdasarkan Situasi
Klasifikasi dari jenis berbicara berikutnya adalah jenis berbicara berdasarkan situasi. Kategori jenis berbicara ini terdiri dari dua jenis, yakni berbicara formal dan berbicara informal. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut dari dua jenis berbicara berdasarkan situasi.

a. Berbicara formal
Berbicara formal adalah kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang pada kegiatan resmi. Ciri kegiatan resmi biasanya dilakukan oleh pemerintah, lembaga, perusahaan, atau instansi dengan peserta yang dari pemerintahan, lembaga, instansi, atau perusahaan. Ciri lainnya dapat dilihat dari tujuan acara, misalnya acara peresmian, pengukuhan, pelatihan, pelantikan, seminar, wawancara, ceramah/pidato, mengajar, dan lainnya. Pada kegiatan berbicara formal, seorang pembicara harus menggunakan bahas yang formal dan disesuaikan dengan pendengar.

b. Berbicara informal
Berbicara informal adalah kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang pada kegiatan yang tidak resmi. Pada kegiatan ini, pembicara dituntut untuk menggunakan bahasa dan pola komunikasi yang cair atau bahasa keseharian. Walaupun demikian, nilai-nilai atau tata krama juga harus diperhatikan. Ciri kegiatan informal atau tidak resmi biasanya dilakukan untuk sesuatu yang tidak serius atau hiburan. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh siapa pun, individu atau kelompok. Contoh kegiatan ini dapat dilihat pada kegiatan hiburan, berkomunikasi sehari-hari, komunikasi antar teman, atau lainnya. Kegiatan berbicara informal biasanya menggunakan bahasa yang informal atau tidak baku.

3. Jenis Berbicara Berdasarkan Metode Penyampaian
Pengklasifikasian jenis berbicara selanjutnya adalah jenis berbicara berdasarkan metode penyampaian. Jenis berbicara berdasarkan metode penyampaiannya terdiri empat macam, yakni dari berbicara mendadak (spontan), berbicara berdasarkan catatan, berbicara berdasarkan hafalan, dan berbicara berdasarkan naskah. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut dari empat jenis berbicara berdasarkan metode penyampaiannya.

a. Berbicara mendadak (spontan)
Berbicara mendadak atau spontan adalah kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang secara tiba-tiba tanpa ada persiapan, pemberitahuan, atau perencanaan sebelumnya. Jenis berbicara ini biasa dilakukan pada acara yang informal, walaupun tidak menutup kemungkinan pada acara formal pun dilakukan. Berbicara secara mendadak atau spontan ini membutuhkan kematangan dan pengalaman dari seorang pembicara. Hal yang perlu diperhatikan dalam jenis berbicara ini adalah memperhatikan tema kegiatan dan peserta.

b. Berbicara berdasarkan catatan
Berbicara berdasarkan catatan adalah kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang berdasarkan tulisan yang telah dibuat sebelumnya. Jenis berbicara ini membutuhkan keterampilan dan persiapan dari pembicara. Ha ini diperlukan sebab pembicara hanya membuat catatan penting apa yang harus dibicarakan, selanjutnya pembicara mengembangkan sendiri apa yang harus dibicarakan. Catatan yang dibuat dapat berupa kartu kecil atau catan pada gawai pembicara. Kegiatan berbicara ini dapat dikatakan adalah jenis pertengahan dari jenis berbicara berdasarkan hafalan dan jenis berbicara berdasarkan naskah yang akan dibahas selanjutnya.

c. Berbicara berdasarkan hafalan
Berbicara berdasarkan hafalan adalah kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang tanpa naskah dan catatan saat berbicara. Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan berbicara berdasarkan hafalan adalah persiapan dari pembicara. Pembicara harus menghafalkah naskah atau hal yang harus dibicarakan sebelum tampil. Hal-hal yang dihafalkan dapat berupa poin-poin penting yang kemudian dikembangkan oleh pembicara atau semua isi naskah. Kegiatan berbicara berdasarkan hafalan ini membutuhkan waktu yang lebih lama jika dibandingkan jenis berbicara lainnya.

d. Berbicara berdasarkan naskah
Jenis berbicara terakhir dari pengklasifikasian jenis berbicara berdasarkan metode penyampaiannya adalah berbicara berdasarkan naskah. Berbicara berdasarkan naskah adalah kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang dengan membaca naskah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Persiapan naskah dalam jenis berbicara ini dapat dilakukan sendiri atau oleh orang lain. Berbicara berdasarkan naskah biasa digunakan dalam keperluan yang penting, sehingga apa yang dibicarakan harus dipersiapkan terlebih dahulu.

4. Jenis Berbicara Berdasarkan Jumlah Pendengar
Pengklasifikasian berikutnya dari jenis berbicara adalah jenis berbicara berdasarkan jumlah pendengar. Sesuai dengan namanya, jenis berbicara berdasarkan jumlah pendengar adalah kategori berbicara yang dibagi sesuai dengan seberapa banyak pendengarnya. Jenis berbicara ini terdiri dari tiga jenis, yakni berbicara antar pribadi, berbicara dalam kelompok kecil, dan berbicara dalam kelompok besar. Berikut adalah penjelasan lebih lengkap dari tiga jenis berbicara berdasarkan jumlah pendengarnya.

a. Berbicara antarpribadi (bicara empat mata)
Berbicara antarpribadi atau antar individu adalah kegiatan berbicara yang dilakukan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya tanpa ada keterlibatan orang lain. Jenis berbicara ini adalah berbicara intens yang terjadi antara dua orang. Jenis berbicara ini dapat berlangsung secara spontan atau direncanakan dapat pula dilakukan secara formal atau informal. Jenis berbicara ini misalnya dapat ditemukan pada kegiatan wawancara, interogasi, pembicaraan antar teman, dan lainnya.

b. Berbicara dalam kelompok kecil ( 3 – 5 orang)
Berbicara dalam kelompok kecil adalah jenis kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang di dalam suatu kelompok yang berisikan tiga sampai dengan lima orang. Kegiatan ini biasa ditemukan pada kegiatan diskusi kelompok kecil, seminar, kursus, atau pelatihan khusus. Kegiatan berbicara dalam kelompok kecil ini dapat terjadi satu arah (mengajar, ceramah, atau lainnya) atau dapat pula terjadi secara dua arah (pembicara dan pendengar sama-sama aktif).

c. Berbicara dalam kelompok besar (massa)
Berbicara dalam kelompok besar adalah jenis kegiatan terakhir dalam kategori jenis berbicara berdasarkan jumlah pendengarnya. Berbicara dalam kelompok besar adalah jenis kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang kepada lebih dari lima orang. Jenis berbicara semacam ini dilakukan ketika seseorang diharuskan berbicara dalam kelompok besar orang dan pendengar yang besar pula. Kegiatan berbicara dalam kelompok besar biasa terjadi pada rapat umum, kampanye, dan sebagainya.

5. Jenis Berbicara Berdasarkan Peristiwa Khusus
Pengklasifikasian terakhir dari jenis berbicara adalah jenis berbicara berdasarkan peristiwa khusus. Jenis berbicara berdasarkan peristiwa khusus adalah jenis berbicara yang dilakukan oleh seseorang pada suatu kejadian yang khas atau eksklusif. Jenis kegiatan berbicara ini setidaknya terdiri dari enam jenis kegiatan berbicara, yakni presentasi, pidato penyambutan, pidato perpisahan, pidato jamuan, pidato perkenalan, dan pidato nominasi. Berikut adalah penjelasan lebih lengkap dari enam jenis berbicara berdasarkan peristiwa khusus.

a. Presentasi
Presentasi adalah jenis berbicara yang dilakukan oleh seseorang untuk memaparkan atau menyajikan hal atau sesuatu yang ingin atau harus diketahui oleh pendengar. Jenis berbicara ini biasanya bersifat formal, walaupun tidak menutup kemungkinan dilakukan secara informal. Contoh kegiatan presentasi dapat dilihat pada presentasi tentang suatu makalah oleh siswa, presentasi suatu penelitian, proyek, atau lainnya.

b. Pidato penyambutan
Pidato penyambutan adalah jenis kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang untuk menerima seseorang atau kelompok orang. Tujuan dilakukannya pidato penyambutan adalah agar tamu yang hadir diketahui oleh banyak orang dan tuan rumah menerimanya dengan baik. Pidato penyambutan merupakan salah satu bentuk penghormatan tuan rumah terhadap tamu yang hadir atau berkunjung ke tempatnya. Kegiatan ini biasa dilakukan secara resmi dan disertai jamuan. Contoh kegiatan ini dapat dilihat pada penyambutan kepala daerah terhadap kepala daerah lain, penyambutan kepala daerah pada mahasiswa KKN, penyambutan seorang petinggi perusahaan terhadap petinggi perusahaan lainnya atau kegiatan sejenisnya.

c. Pidato perpisahan
Pidato perpisahan adalah kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu atau kelompok untuk mengakhiri suatu pertemuan. Pidato perpisahan adalah kegiatan yang berlawanan dengan pidato penyambutan. Tujuan dari pidato perpisahan adalah untuk berterima kasih kepada tamu yang telah berkunjung atau menetap pada suatu daerah, lembaga, atau instansi. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara formal. Sama halnya dengan pidato penyambutan, pidato perpisahan adalah salah satu bentuk penghormatan tuan rumah terhadap tamunya.

d. Pidato jamuan (makan malam)
Pidato jamuan makan malam adalah jenis kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang pada acara jamuan makan malam. Jenis kegiatan ini masih asing di Indonesia sebab kegiatan ini adalah bagian dari kebudayaan Barat. Pidato jamuan makan malam biasanya berisi ucapan terima kasih pada tamu atau tuan rumah kemudian dilanjutkan oleh hal lain yang berkaitan dengan tujuan diadakannya jamuan makan malam tersebut. Pidato jamuan makan malam biasanya dilakukan secara formal atau informal.

e. Pidato perkenalan
Pidato perkenalan adalah jenis kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang untuk memberitahukan kepada orang lain tentang dirinya sendiri dengan tujuan agar orang lain mengenal dirinya. Pidato perkenalan dilakukan oleh individu, walaupun yang dikanalkan oleh kelompok orang, perwakilan kelompok dapat melakukan pidato perkenalan untuk memperkenalkan kelompoknya. Kegiatan ini dapat menjadi kegiatan lanjutan dari pidato penyambutan.

f. Pidato nominasi (mengunggulkan)
Jenis berbicara terakhir dalam pengklasifikasian berbicara berdasarkan peristiwa khusus adalah pidato nominasi. Pidato nominasi adalah jenis berbicara yang dilakukan oleh seseorang setelah mendapatkan penghargaan atau nominasi. Pidato nominasi bertujuan agar pembicara dapat berterima kasih pada pihak yang membantunya untuk mendapatkan penghargaan, selain itu dapat pula berisi tentang perjalanan kariernya, atau motivasi untuk orang lain. Pidato nominasi biasanya berlangsung secara singkat, sebab melibatkan banyak pemenang. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan pidato nominasi berlangsung secara khusus untuk satu orang, sehingga waktu penyampaian pidato juga lebih lama. Contoh kegiatan ini dapat ditemukan pada pidato nominasi peraih Nobel, penghargaan dari pemerintah, lembaga, atau lainnya.

Referensi:
Mudini, M., & Purba, S. (2009). Pembelajaran Berbicara. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bahasa.

Posting Komentar untuk "LIMA KLASIFIKASI JENIS-JENIS BERBICARA (BERDASARKAN TUJUAN, SITUASI, PENYAMPAIN JUMLAH PENDEGAR, DAN PERISTIWA KHSUSUS)"